1. Pengertian statistik dan statistika
Kata statistic bukan merupakan kata dari bahasa Indonesia asli, secara
etimologis kata "statistik" berasal dari kata status (bahasa latin)
yang mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa Inggris) atau kata
staat (bahasa Belanda), dan yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi
negara. Pada mulanya, kata "statistik" diartikan sebagai
"kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data
kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai
arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara.Namun, pada perkembangan
selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada "kumpulan bahan
keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif)" saja; bahan keterangan
yang tidak berwujud angka (data kualitatif) tidak lagi disebut statistik.
Seiring berjalannya waktu kata statistic tidak lagi dibatasi untuk
kepentingan-kepentingan Negara saja tapi sudah digunakan dalam keseharian untuk
mempermudah masyarakat untuk menganalisis sesuatu yang berkaitan dengan
data-data. Sehingga setelah masyarakat memahami statistic dan mulai
mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari munculah berbagai macam nama
statistic., contohnya kumpulan data yang membahas tentang tingkat produksi
suatu perusahaan dinamakan statistic produksi.
Umumnya suatu data diikuti atau dilengkapi dengan keterangan-keterangan
yang berkaitan dengan suatu peristiwa atau keadaan tertentu. Kata statistik
juga menyatakan ukuran atau kara. Berdasarkan jenisnya, statistik dibedakan menjadi dua, yaitu statistik
deskriptif dan statistik inferensial.
·
Statistik deskriptif adalah statistik yang berkenaan dengan metode atau
caramendeskripsikan, menggambarkan, menjabarkan, atau menguraikan data.
Menata, menyajikan, dan
menganalisis data dapat dilakukan misalnya dengan menentukan nilai rata-rata
hitung dan persen / proposisi. Cara lain untuk menggambarkan data adalah dengan
membuat tabel, distribusi frekuensi, dan diagram atau grafik (Sugiyono, 2006).
·
Statistik inferensial adalah statistik yang berkenaan dengan cara penarikan
kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari sampel untuk menggambarkan
karakterisktik atau ciri dari suatu populasi. Dengan demikian dalam statistik
inferensial dilakukan suatu generalisasi (perampatan atau memperumum) dan hal
yang bersifat khusus (kecil) ke hal yang lebih luas (umum). Oleh karena itu,
statistik inferensial disebut juga statistik induktif atau statistik penarikan
kesimpulan. Pada statistik inferensial biasanya dilakukan pengujian hipotesis
dan pendugaan mengenai karakteristik (ciri) dari suatu populasi, seperti mean
dan Uji t (Sugiyono, 2006).
Berdasarkan bentuk parameternya statistic dapat
dikelompokkan ,antar lain:
Statistik parametric dan statistic non parametric.
·
Statistik parametric adalah statistic yang
mempertimbangkan jeni sebaran/disrtibusi data yang berdistribusi noral dan
memiliki varian homogen. Pada umumya data yang digunakan pada statistic para
metric ini bersifat interval dan rasio. Uji statistic yang dapat digunakan pada
statisyik parametric, anatar lain:
1. Uji-z(1 atau 2 sampel)
2. Uji-t(1 atau 2 sampel)
3. Korelasi sederhana dan
berganda
4. One or two way anova test
5. Analisis regresi sederhana dan
berganda, dan lain-lain.
·
Stasistik non parametric merupakan bagian statistic
yang parameter populasi atau datanya tidak mengikuti suatu distribusi tertentu
atau memiliki distribusi yang bebas dari persyaratan, dan variannya tidak perlu
homogeny. Statistik nonparametric biasanya digunakan untuk melakukan analisis
pada data berjenis nominal atau ordinal. Analisis statistik nonparametrik
antara lain:
1. Uji tanda peringkat Wilcoxon
dan uji Mann- Witney(untuk 1 atau 2 kelompok).
2. Uji kruskal-wallis(untuk
kelompok lebih dari 2)
3. Uji Friedman
4. Uji Chi-kuadrat, dan
lain-lain.
Statistika
adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan,
menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.Statistika merupakan ilmu yang berkenaan
dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan
algoritma statistika pada suatu data.Dari kumpulan data, statistika dapat
digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif.Sebagian besar konsep dasar statistika
mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.
Statistika banyak diterapkan dalam
berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri. Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus
penduduk merupakan
salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang
sekarang popular adalah prosedur jajak
pendapat atau polling
(misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta hitung
cepat (perhitungan
cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika
dapat pula diterapkan dalam pengenalan
pola maupun kecerdasan
buatan.
Perbedaan Statistika dan Statistik
Statistika merupakan suatu ilmu yang
mempelajari tata cara pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data,
analisis data, dan pengambilan keputusan berdasarkan data.
Statistik merupakan karakteristik yang
diukur dari sampel. Karakteristik di sini berupa rata-rata, varians
atau standart deviasi, proporsi. Misal : rata-rata usia penduduk di
Surabaya, Malang dan Gresik.
2.
Populasi dan sampel
a.
Populasi
Menurut Margono (2010:118), “populasi
adalah suatu data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan
waktu yang kita tentukan.” Sedangkan menurut Sukmadinata (2011:250)
mengemukakan bahwa populasi adalah “kelompok besar dan wilayah yang menjadi
lingkup penelitian kita.” Senada dengan itu Arikunto (2002:108) mengemukakan
bahwa populasi adalah “Keseluruhan objek penelitian”. Kaitannya dengan batasan
tersebut populasi dibedakan menjadi dua yaitu, populasi terhingga dan populasi
tidak terhingga. Populasi terhingga yaitu, populasi yang memiliki kuantitatif
secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Sedangkan populasi
tak terhingga yaitu, populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya,
sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif.Margono
(2012:119) mengemukakan bahwa suatu populasi bagi suatu penelitian harus
dibedakan kedalam sifat berikut ini:
- Populasi yang bersifat homogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dakter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah hasilnya akan sama saja.
- Populasi yang bersifat heterogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya.
Metode penarikan/pengambilan data
dengan jelas mewakili/melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus.
Seorang peneliti meskipun mengetahui bahwa metode sensus ini akan banyak
memerlukan pikiran, memakan waktu yang relatif lama dan biayanya mahal, namun
tetap melakukan sensus, hal ini disebabkan karena:
- Untuk ketelitian
Suatu penelitian sering meminta
ketelitian dan kecermatan yang tinggi, sehingga memerlukan data-data yang besar
jumlahnya. Apabila unsur ketelitian dan kecermatan ini harus diprioritaskan
maka harus digunakan metode sensus.
2.
Sumber bersifat heterogen
Apabila menghadapi sumber informasi
yang bersifat heterogen dimana sifat dan karakteristik masing-masing sumber
sulit untuk dibedakan maka lebih baik menggunakan metode sensus.
b.Sampel
Jika kita hanya akan meneliti sebagian
dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Sampel
dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama adalah sampel judgemental yaitu
sampel dipilih berdasarkan pendapat analisis dan hasil penelitian digunakan
untuk menarik kesimpulan tentang item-item didalam sampel yaitu observasi
sesungguhnya. Yang kedua, sampel statistical yaitu sampel dipilih secara
acak/random dari seluruh populasi dan hasil penelitiannya dapat digunakan untuk
menarik kesimpulan tentang seluruh populasi.
Pengambilan sampel merupakan suatu
proses pemilihan dan penentuan jenis sampel serta perhitungan besarnya sampel
yang akan menjadi subjek atau objek penelitian. Untuk menentukan sampel yang
akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai jenis sampling yang
digunakan. Menurut Sugiyono (2010:217) teknik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu,
1.
Probability Samping adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi
setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik
ini meliputi:
·
Simple Random Sampling, adalah suatu metode pemilihan ukuran sampel dari suatu populasi dimana
setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama dan semua kemungkinan
penggabungannya yang diseleksi sebagai sampel mempunyai peluang yang sama
(Weirsma, 1975). Syarat pengambilan sampel secara random/acak meliputi tahap
menetapkan populasi, daftar semua anggota populasi dan memilih sampel melalui
prosedur yang sesuai di mana setiap anggota mempunyai peluang yang sama sebagai
sampel penyelidikan.
·
Proportionate Stratified Random Sampling, teknik ini hampir sama dengan simple random
sampling namun penentuan sampelnya memperhatikan tingkatan di dalam populasi.
·
Disproportionate Stratified Random Sampling, adalah teknik yang hampir mirip dengan Proportionate
Stratified Random Sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun,
ketidakproporsionalan penentuan sampel didasarkan pada pertimbangan jika
anggota populasi berkelompok namun kurang proporsional pembaginya.
·
Cluster Random Sampling, apabila kita menyeleksi anggota sampel dalam kelompok dan
bukan menyeleksi individu-individu secara terpisah (Vockell,1983). Pengambilan
sampel semacam ini kadang-kadang dikaitkan dengn pengambilan sampel wilayah,
sebab dalam pelaksanaannya seringkali didasarkan atas letak geografis.
2. Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilihmenjadi sampel. Teknik ini meliputi:
·
Sampling Sistematis adalah suatu strategi pemilihan anggota sampel yang hanya dapat diperbolehkan
melalui peluang dan sistem untuk menentukan keanggotaan dalam sampel. Teknik
ini juga bisa dikatakan sebagai teknik sampling yang menggunakan nomor urut
dari populasi baik yang didasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti
maupun identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan
sistematis lainnya.
·
Sampling Kuota, adalahteknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang
memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan. Dalam pengambian
sampel kuota, kit mengidentifikasikan kumpulan karakteristik penting dari
populasi dan kemudian memilih sampel yang diinginkan secara non-acak. Hal ini
diasumsikan bahwa sampel-sampel tersebut sesuai dengan karakteristik populasi
yang ditetapkan (Vockell, 1983).
·
Samping Aksidental,merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan atau siapa saja yang
kebetulan bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik
sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
·
Purposive Sampling, merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga
layak dijadikan sampel. Peneliti akan berusaha agar dalam sampel itu terdapat
wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Sampel purposive dilakukan dengan
mengambil orang-orang yang benar-benar terpilih oleh peneliti menurut ciri-ciri
spesifik yang dimiliki oleh sampel tersebut. Misalnya orang yang mempunyai
tingkat pendidikan tertentu, jabatan tertentu, mempunyai usia tertentu yang
pernah aktif dalam kegiatan masyarakat tertentu.
·
Sampling Jenuh, adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika
populasi dianggap kecil atau kurang dari 100.
·
Snowball Sampling, adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemuian terus
membesar ibarat bola salju. Dalam sampling ini penelti mulai dengan kelompok
kecil yang diminta untuk menunjuk kawan masing-masing. Kemudian kawan-kawan itu
diminta menunjuk kawan masing-masing, dan begitu seterusnya sehingga kelompok
itu menjadi semakin bertambag besar. Samping ini dipilih bila peneliti ingin
menyelidiki hubungan antar manusia dalam kelompok yang akrab, atau menyelidiki
cara-cara informasi tersebar dikalangan tertentu.
Untuk mempermudah pemahaman kita
mengenai bagaimana penarikan sampel serta mendapatkan sampel yang benar-benar
mewakili maka ada beberapa langkah dalam melakukan pengambilan sampel.
Kuncoro (2003:104) menyebutkan bahwa dalam pengambilan sampel, dapat dilakukan
langkah-langkah berikut diantaranya, menentukan populasi target, membuat
kerangka sampling, menentukan ukuran sampel, menentukan teknik dan rencana
pengambilan sampel, dan pelakukan pengambilan sampel.
Penelitian yang memakai sampel untuk
meneliti atau menyelidiki karakteristik objek penelitian, dilakukan dengan
beberapa alasan, antara lain: objek yang diteliti sifatnya mudah rusak, objek
yang diteliti sifatnya homogen, tidak mungkin meneliti secara fisik seluruh
objek populasi, untuk menghemat biaya, untuk menghemat waktu dan tenaga, serta
keakuratan hasil sampling. Dalam konteks penelitian kualitatif, penentuan
sampel didasarkan pada proses sampling sebagai parameter populasi yang dinamis.
Hal ini dapat dipahami karena kekuatan dari penelitian kualitatif terletak pada
kekayaan informasi yang dimiliki oleh responden, dari kasus yang diteliti, dan
kemampian analisis peneliti. Sehingga penentuan sampel dalam penelitian
kualitatif disesuaikan dengan tujuan penelitian, teknik pengumpulan data, dan
keberadaan kasus yang kaya akan informasi.
3.
Arti data
Data adalah hasil pengukuran yang bisa memberikan
gambaran suatu keadaan atau memberikan suatu informasi yang menunjukkan fakta. Data
juga dapat diartikan dengan kumpulan fakta, angka, atau segala sesuatu yang
dapat dipercaya kebenarannya, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk
menarik suatu kesimpulan.
Adapun syarat-syarat data yan baik adalah:
·
Data harus akurat
·
Data harus relevan
·
Data harus up to date
Secara garis besar data
dibagi kedalam beberapa kelompok, antara lain:
1.
Menurut sifatnya
a)
Data kualitatif
Data kualitatif adalah data
yang berupa pendapat(pernyataan) atau judgement sehingga tidak berupa angka,
tetapi erupa kata-kata atau kalimat. Data kualitatif diperoleh dari berbagai
teknik pengumpulan data, misalnya wawancara,analisis dokumen,diskusi atau
observasi lapangan yang telah dituangkan dalam bentuk transkip.
Contoh: tingkat kesejahteraan
masyrakat Jakarta tinggi.
b) Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berupa angka.Sesuai dengan bentuknya data
kuantitatif dapat diolah atau dianalisis dengan menggunakan teknik perhitugan
statistik. Data kuantitatif dibagi dua kelompok berdasarkan proses atau cara
mendapatkannya.
1. Data diskrit, yaitu data dalam
bentuk bilangan bulat yang dipengaruhi dengan cara membilang. Contohnya:jumlah
perguruan tinggi swasta dijakarta ada 750.
2. Data dikotomi, yaitu data
dalam bentuk bilangan bulat atau pecahan yang diperoleh dengan cara pengukuran.
Data dikotomi tergantung dengan jenis skala pengukuran yang digunakan.
Contohnya: tingkat pendapatan masyarakat Jambi mencapai Rp 3.000.000/bulan.
2. Menurut waktu pengumpulan
1. Data time series
Data time series adalah data
yang dikumpulkan dari waktu ke waktu pada satu objek, dengan tujuan untuk
menggambarkan perkembangan dari objek tersebut. Misalnya, data perkembangan
harga daging sapi dari hari ke hari.
2. Data cross section
Data cross section adalah data
yang dikumpulkan disuatu periode tertentu pada beberapa objek dengan tujuan
untuk menggambarkan keadaan. Misalnya, data dampak harga BBM naik terhadap
harga pokok pada bulan januari 2010.
3. Menurut cara memperolehya
a. Data primer
Data primer adalah data yang
dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat
objek penelitian dilakukan.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang
diterbitkan atau digunakan oleh organisasi
yang bukan pengolahnya.
4.
Menurut skala pengukuran
a. Nominal
Data Nominal Adalah data dimana
angka hanya merupakan lambang. Contohnya : pada variabel Jenis Kelamin :
1 untuk Laki-laki, 2 untuk Perempuan.
b. Ordinal
b. Ordinal
Adalah data dimana angka selain
sebagai lambang, juga menunjukkan urutan
Contohnya : pada variabel Tingkat Pendidikan : 1 SD 2 SMP 3 SMU 4 PT.
c. Interval
Contohnya : pada variabel Tingkat Pendidikan : 1 SD 2 SMP 3 SMU 4 PT.
c. Interval
Adalah data dimana angka adalah
angka yang sebenarnya, tetapi tidak mutlak. Contohnya : pada variabel Nilai.
d. Rasio
Adalah data dimana angka adalah
angka yang sebenarnya dan mutlak
Contoh : pada variabel jumlah : data yang dihasilkan adalah rasio.
Contoh : pada variabel jumlah : data yang dihasilkan adalah rasio.
5. Menurut sumber
a. Primer
Data primer
adalah data yang di peroleh langsung dari sumbernya
Contoh : Data hasil kuesioner.
Contoh : Data hasil kuesioner.
b. sekunder
Data
sekunder adalah data yang di peroleh dari hasil pengumpulan orang lain. Contoh : Data yang diambil dari
BPS
4.
Jenis skala pengukuran
Skala pengukuran adalah
kesepakatan yang digunakan sebagai acuan atau tolak ukur untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada pada alat ukur sehinga alat ukur tersebut
bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data. (Ramli : 2011).
Sebagai
contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas,
dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam
satuan mg.
Menurut
Wikipedia, Skala pengukuran
memiliki empat tipe, sebagaimana dikembangkan konsepnya oleh seorang psikolog
bernama Stanley Smith Stevens pada artikel di majalah Science berkepala On
the theory of scales of measurements. Pada artikel ini, Stevens
mengemukakan bahwa dalam sains dikenal empat tipe skala pengukuran yang
masing-masing disebutnya sebagai skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.
Jenis-Jenis Skala Pengukuran
- Skala Nominal
Skala nominal
adalah skala pengukuran paling sederhana. skala yang memungkinkan peneliti
mengelompokkan objek, individual atau kelompok kedalam kategori tertentu dan
disimbolkan dengan label atau kode tertentu, selain itu angka yang diberikan
kepada obyek hanya mempunyai arti sebagai label saja dan tidak menunjukan
tingkatan.
Skala nominal
bersifat mutually excusive atau setiap objek hanya memiliki satu
kategori. Contoh
umum yang biasa dipakai yaitu variabel jenis kelamin . Dalam hal ini hasil
pengukuran tidak dapat diurutkan (wanita lebih tinggi dari pada lak-laki, atau
sebaliknya), tetapi lebih pada perbedaan keduanya
2. Skala
Ordinal
Skala nominal
tidak hanya menyatakan kategori tetapi juga menyatakan peringkat kategori
tersebut. hasil pengukuran skala ini dapat menggambarkan posisi atau peringkat
tetapi tidak mnegukur jarak antar peringkat.
- Tingkat pendidikan atau kekayaan, dalam pengukuran yang mengelompakan status sosial, hasil pengukuran tidak dapat memberikan informasi mengenai perbedaan antara status sosial (tinggi ke rendah, rendah ke sedang dan tinggi ke sedang) belum tentu sama.
- Tingkat keparahan penyakit
- Tingkat kesembuhan
- Derajat keganasan kanker
3. Skala Interval
Skala
interval adalah suatu skala pemberian angka pada klasifikasi atau kategori dari
objek yang mempunyai sifat ukuran ordinal, ditambah satu sifat lain yaitu jarak
atau interval yang sama dan merupakan ciri dari objek yang diukur. Sehingga
jarak atau intervalnya dapat dibandingkan.
Skala
interval bisa dikatakan tingkatan skala ini berada diatas skala ordinal dan
nominal. Selanjutnya skala ini tidak mempunyai nilai nol mutlak sehingga tidak
dapat diinterpretasikan secara penuh besarnya skor dari rasio tertentu.
Contoh Skala Interval:
- Suhu
- Tingkat kecerdasan (IQ)
- Beberapa indeks pengukuran tertentu
4. Skala Rasio (Skala Nisbah)
Skala rasio
mempunyai semua sifat skala interval ditambah satu sifat yaitu memebrikan
keterangan tentang nilai absolut dari objek yang diukur. Skala rasio merupakan
skala pengukuran yang ditujukan pada hasil pengukuran yang bisa
dibedakan, diurutkan, mempunyai jarak tertentu, dan bisa dibandingkan (paling
lengkap, mencakup semuanya dibanding skala-skala dibawahanya).
Contoh
: Bila kita ingin membadingkan berat dua orang . Berat Fulan1 40Kg dan
Fulan2 80Kg. Kita dapat tahu bahwa fulan2 dua kali lebih berat daripada Fulan1,
karena nilai variabel numerik berat mengungkapkan rasio dengan nilai nol
sebagai titik bakunya.
Contoh:
- Panjang, berat badan, usia
- Kadar zat dan jumlah sel tertentu
- Dosis obat, dll
Pengukuran-pengukuran
dalam skala rasio yang sering digunakan adalah pengukuran tinggi dan berat.
Misalnya berat benda A adalah 30 kg, sedangkan benda B adalah 60 kg. Maka dapat
dikatakan bahwa benda B dua kali lebih berat dibandingkan benda Asehingga responden dapat
bebas/terbuka luasuntuk menjawabnya sesuai pandangan/pendapat dan
pengetahuannya.
5.
Tipe skala pengukuran
Dari berbagai macam bentuk skala yang
ada, berikut ini adalah bentuk skala yang dapat digunakan dalam metode
penelitian pendidikan, yaitu skala Likert, skala Guttman, semantic
differensial, rating scale, dan skala thurstone.
- Skala Likert
Skala Likert adalah skala yang dapat
dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang mengenai suatu gejala atau fenomena pendidikan. Dalam skala
Likert terdapat dua bentuk pernyataan yaitu pernyataan positif yang berfungsi
untuk mengukur sikap positif, dan pernyataan negative yang berfungsi untuk
mengukur sikap negative objek sikap.
Jawaban dari setiap instrumen yang
mengguakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai
sangat negatif yag dapat berupa kata-kata antara lain : sangat setuju, setuju,
ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju ; selalu, sering, kadang-kadang,
tidak pernah.Biasanya skala Likert sering digunakan dalam pengisian kuisioner
terkait dengan kualitas suatu hal atau seseorang.
2. Skala
Guttman
Yaitu skala yang menginginkan tipe
jawaban tegas, seperti jawaban benar – salah, ya – tidak, pernah – tidak
pernah, positif – negative, tinggi – rendah, baik – buruk, dan seterusnya. Pada
skala Guttman, hanya ada dua interval, yaitu setuju dan tidak setuju.
Contoh : jika peneliti ingin
mengumpulkan data tentang kebutuhan mahasiswa, ditentukan 4 macam kebutuhan
yaitu : Berteman, Belajar, Rekreasi dan istirahat, salah satu dimensi dari
keempat dimensi tadi akan dibagi menjadi 5 pernyataan dalam kuesioner. Maka
Skala Guttman akan menggunakan kelima pernyataan tersebut sebagai item :
|
1
|
Apakah dengan belajar akan terpenuhi
kebutuhan anda dalam mencari ilmu
|
(Ya/Tidak)
|
|
2
|
Apakah dengan belajar akan terpenuhi
kebutuhan anda dalam melanjutkan pendidikan ?
|
(Ya/Tidak)
|
|
3
|
Apakah dengan belajar akan terpenuhi
kebutuhan anda dalam mendapatkan gelar ?
|
(Ya/Tidak)
|
|
4
|
Apakah dengan belajar akan terpenuhi
kebutuhan anda dalam mendapatkan ijazah ?
|
(Ya/Tidak)
|
|
5
|
Apakah dengan belajar akan terpenuhi
kebutuhan anda dalam memenuhi syarat mencari kerja ?
|
(Ya/Tidak)
|
- Semantik Differensial
Skala diferensial yaitu skala untuk
mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi
tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak
dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri
garis, atau sebaliknya.
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
4.
Skala Thurstone
Skala Thurstone adalah skala yang
disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir
memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang
berjarak sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan
yang relevan dengan variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40)
orang menilai relevansi pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak
diukur.
Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak
relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.
- Rating Scale
Dalam rating scale, data yang
diperoleh adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam
pengertian kualitatif. Seperti halnya skala lainnya, dalam rating scale
responden akan memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
Rating scale lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi dapat juga
digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan,
seperti skala untuk mengukur status sosial, ekonomi, pengetahuan, kemampuan,
dan lain-lain.
Bentuk-bentuk Rating Scale
Terdapat beberapa bentuk rating scale antara lain :
- Skala Numerik/Kuantitatif
Skala ini menggunakan angka-angka ( skor-skor ) untuk
menunjukan gradasi-gradasi, disertai penjelasan singkat pada masing-masing
angka.
- Skala Penilaian Grafis
Skala menggunakan suatu garis sebagai kontinum.
Gradasi-gradasi ditunjuk pada garis itu dengan menyajikan deskripsi-deskripsi
singkat di bawah garisnya Pengamat memberikan tanda silang di garis pada tempat
yang sesuai dengan gradasi yang dipilih.
- Daftar Cek
Skala ini mempunyai item dalam tes hasil belajar, bentuk
obyektif dengan type pilihan berganda ( multiple choice ). Pada masing-masing
sifat atau sikap yang harus dinilai, disajikan empat sampai lima pilihan dengan
deskripsi singkat pada masing-masing pilihan. Pengamat memberikan tanda cek
pada pilihan tertentu di ruang yang disediakan.
Contoh :
Seberapa baik ruang kerja yang ada di perusahaan anda?
Beri jawaban angka :
4 = bila tata ruang itu sangat baik
3 = bila tata ruang itu cukup baik
2 = bila tata ruang itu kurang baik
1 = bila tata ruang itu sangat tidak baik
6. Sumber
dan instumen pengumpulan data.
Dalam
penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan
penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa
sumbernya, dan apa alat yang digunakan.
Jenis sumber
data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh dari
sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak langsung
(data sekunder).
Metode
Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan
data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya
melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya.
Sedangkan
Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data. Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list,
kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan
lainnya.Adapun tiga teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah angket,
observasi dan wawancara.
1. Angket
Angket /
kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan
seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan
responden untuk dijawabnya.
Meskipun
terlihat mudah, teknik pengumpulan data melalui angket cukup sulit dilakukan
jika respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah.
Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran (dalam
Sugiyono, 2007:163) terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran
dan penampilan fisik.Prinsip Penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara
lain :
- Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
- Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa Inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa Inggris, dsb.
- Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.
2. Observasi
Obrservasi
merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap
dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam
berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila
penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja,
gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
Alat yang
digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku
catatan, kamera photo, dll.
3. Wawancara
Wawancara
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya
jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau
sumber data.
Wawancara
pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan
karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada
sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data
(umumnya penelitian kualitatif).
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
- Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
- Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.
7.
Macam-macam penyajian data
Cara
penyajian data ada dua macam, yaitu :
1.
Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Tabel, yaitu kumpulan angka-angka yang disusun menurut
kategori-kategori. Misalnya: berat badan menurut jenis kelamin, jumlah pegawai
menurut pendidikan, jumlah penjualan menurut jenis barang dan daerah penjualan,
dll. Tabel Ada berbagai bentuk tabel yang dikenal, yaitu :
1.Tabel
satu arah (one way table).
Tabel
satu arah (one way table) Yaitu tabel yang memuat keterangan mengenai satu hal
atau satu karakteristik saja.Misalnya data Produksi kedelai menurut jenis
varietas yang ditanam.
2.Tabel
dua arah (two way table).
Tabel
dua arah (two way table) Yaitu tabel yang menunjukkan hubungan dua hal atau dua
karakteristik yang berbeda.Misalnya data Produksi kedelai menurut jenis
varietas dan daerah panen.
3.Tabel
tiga arah (Three way table).
Tabel
tiga arah (three way table) Yaitu tabel yang menunjukkan hubungan tiga hal atau
tiga karakteristik yang berbeda.Misalnya data hasil pengamatan produksi kedelai
(ton/ha) menurut jenis varietas, daerah panen, dan jenis tanah.
Penyajian dalam
bentuk tabel merupakan penyajian data dalam bentuk angka yang disusun secara
teratur dalam bentuk kolom dan baris.Penyajian dalam bentuk tebel banyak
digunakan pada penuilsan laporan hasil penelitian dengan maksud agar orang
mudah memperoleh gambaran rinci tentang hasil penelitian yang telah dilakukan.
Suatu
tabel yang lengkap terdiri dari :
Ø
Nomor
table, biasanya ditempatkan diatas sebelah kiri sejajar denga judul tabel.
Ø
Judul
Tabel, Setiap tabel yang disajikan harus diberikan judul karena dari judul
tabel orang dapat mengetahui tentang apa yang disajikan.
Ø
Catatan
Pendahuluan, biasanya diletakkan dibawah judul dan berfungsi sebagai keterangan
tambahan tentang tahun pembuatan tabel atau jumlah pengamatam yang dilakukan.
Ø
Badan
Tabel, terdiri dari judul kolom,judul baris,judul kompartemen dan sel.
Ø
Catatan
kaki, dimaksudkan untuk memberi keterangan terhadap singkatan atau ukuran yang
digunakan.Bisanya dengan member tanda yang sesuai dengan tanda yang terdapat
dikanan atas singkatan yang digunakan.Tanda yang biasanya dapat berupa *x dan lain lain.Catatan kaki diletakkan
dibawah kiri tabel.
-Sumber Data, Sumber data diletakan dibagian kiri
bawah(dibawah catatan kaki),sumber ini mempunyai arti penting bila data yang
sajikan berupa data sekunder.
Contoh tabel:
2.
Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
Diagram adalah gambar yang menyajikan data secara visual
yang biasanya berasal dari tabel yang telah dibuat.Meskipun demikian, diagram
masih memiliki kelemahan, yaitu pada umumnya diagram tidak dapat memberikan
gambaran yang lebih detail.
Grafik
Ada berbagai bentuk grafik yang dikenal, yaitu :
1.Grafik
garis (line chart).
Grafik
garis (line chart) Ada berbagai bentuk, yaitu : Grafik garis tunggal (single
line chart), Yaitu grafik yang terdiri dari satu garis untuk menggambarkan
perkembangan (trend) dari suatu karakteristik dan grafik garis berganda
(multiple line chart) Yaitu grafik yang terdiri dari beberapa garis untuk menggambarkan
beberapa hal/kejadian sekaligus.
Seperti halnya diagram batang, diagram garis pun memerlukan
sistem sumbu datar (horizontal) dan sumbu tegak (vertikal) yang saling
berpotongan tegak lurus. Sumbu mendatar biasanya menyatakan jenis data,
misalnya waktu dan berat.Adapun sumbu tegaknya menyatakan frekuensi data.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat diagram garis adalah sebagai
berikut.
- Buatlah suatu koordinat (berbentuk bilangan) dengan sumbu mendatar menunjukkan waktu dan sumbu tegak menunjukkan data pengamatan.
- Gambarlah titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t.
- Secara berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titiktitik koordinat tersebut dengan garis lurus.
Contoh diagram garis:
2.Grafik
Batangan (bar chart).
Grafik
Batangan (Bar chart) Ada berbagai bentuk, yaitu : Grafik batangan tunggal
(single bar chart), Yaitu grafik yang terdiri dari satu batangan untuk
menggambarkan perkembangan (trend) dari suatu karakteristik dan Grafik batangan
berganda (multiple bar chart), Yaitu grafik yang terdiri dari beberapa garis
untuk menggambarkan beberapa hal/kejadian sekaligus.
Diagram batang biasanya digunakan untuk menggambarkan data
diskrit (data cacahan).Diagram batang adalah bentuk penyajian data statistik
dalam bentuk batang yang dicatat dalam interval tertentu pada bidang cartesius.
Adapun contoh diagram batang adalh sebagai berikut:
.
|
Gambar 1. Diagram batang vertikal Keuntungan Toko
"Anggo" per Bulan
(dalam jumlah rupiah)
|
3.Grafik
lingkaran (pie chart).
Grafik
Lingkaran (Pie chart) Yaitu grafik yang menggambarkan perbandingan nilai-nilai
dari suatu karakteristik.Untuk mengetahui perbandingan suatu data terhadap
keseluruhan, suatu data lebih tepat disajikan dalam bentuk diagram
lingkaran.Diagram lingkaran adalah bentuk penyajian data statistika dalam
bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa juring lingkaran.
Langkah-langkah
untuk membuat diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
- Buatlah sebuah lingkaran pada kertas.
- Bagilah lingkaran tersebut menjadi beberapa juring lingkaran untuk menggambarkan kategori yang datanya
- telah diubah ke dalam derajat.
|
Gambar 3. Diagram lingkaran banyaknya siswa di suatu
kabupaten menurut tingkat sekolah pada tahun 2007
|
4.Grafik
gambar (Pictogram chart).
Grafik
Gambar (Pictogram chart) Yaitu grafik yang disajikan dalam bentuk gambar suatu
karakteristik tertentu.Misalnya, untuk menyatakan jumlah penduduk pada
tahun-tahun tertentu.
Contoh
grafik gambar:
8.
Hipotesis
1. Hipotesis Nol (Ho)
Hipotesis nol (H0) adalah
hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antara variabel independen (X)
dan variabel dependen (Y). Artinya, dalam rumusan hipotesis, yang diuji adalah ketidakbenaran variabel (X)
mempengaruhi (Y). Ex: “tidak ada hubungan antara warna baju dengan kecerdasan
mahasiswa”.
2. Hipotesis Kerja (H1)
Hipotesis Kerja (H1) adalah
hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel independen (X) dan
variabel dependen (Y) yang diteliti. Hasil perhitungan H1 tersebut, akan
digunakan sebagai dasar pencarian data penelitian.
Jenis-jenis Hipotesis :
·
Hipotesis
dilihat dari kategori rumusannya
Dibagi menjadi dua bagian yaitu:
(1) hipotesis nihil yang biasa disingkat dengan Ho.
Hipotesis nihil (Ho)
yaitu hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungannya atau pengaruh antara
variabel dengan variabel lain. Contohnya: Tidak ada hubungan antara tingkat
pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
(2) hipotesis alternatif biasanya disebut hipotesis kerja
atau disingkat Ha.
Hipotesis alternatif (Ha) adalah
hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan
variabel lain. Contohnya: Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua
dengan prestasi belajar siswa SD.Hipotesis alternatif ada dua macam, yaitu
directional Hypotheses dan non directional Hypotheses (Fraenkel and Wallen,
1990:42 ; Suharsimi Arikunto, 1989:57).
2. Hipotesis
dilihat dari sifat variabel yang akan diuji.
Dilihat dari sifat yang akan
diuji, hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1)
hipotesis tentang hubungan dan (2) hipotesis tentang perbedaan.
Hipotesis tentang hubungan yaitu hipotesis yang
menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih, mengacu ke
penelitian korelasional.
3. Jenis
Hipotesis yang dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji.
Ditinjau dari keluasan dan
lingkupnya, hipotesis dapat dibedakan menjadi hipotesis mayor dan hipotesis minor.
·
Hipotesis
mayor adalah hipotesis yang mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh objek
penelitian. Contoh: “Ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi (KSE) orang tua
dengan prestasi belajar siswa SMP”.
·
Hipotesis minor adalah hipotesis yang terdiri dari
bagian-bagian atau sub-sub dari hipotesis mayor (jabaran dari hipotesis mayor).
Contoh: Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP.
Sebuah
hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal.
Hal – hal tersebut diantaranya :
1) Hipotesis harus
mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus
menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus
dapat diuji
4) Hipotesis
hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis
hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
Berikut
ini beberapa penjelasan mengenai Hipotesis yang baik :
- Hipotesis harus
menduga Hubungan diantara beberapa variable
Hipotesis
harus dapat menduga hubungan antara dua variabel atau lebih, disini harus
dianalisis variabel-variabel yang dianggap turut mempengaruhi gejala-gejala
tertentu dan kemudian diselidiki sampai dimana perubahan dalam variabel yang
satu membawa perubahan pada variabel yang lain.
- Hipotesis harus
Dapat Diuji
Hipotesis
harus dapat di uji untuk dapat menerima atau menolaknya, hal ini dapat
dilakukan dengan mengumpulkan data-data empiris.
- Hipotesis harus
konsisten dengan keberadaan ilmu pengetahuan-
Hipotesis
tidak bertentangan dengan pengetahuan yang telah ditetapkan sebelumnya.Dalam
beberapa masalah, dan terkhusus pada permulaan penelitian, ini harus
berhati-hati untuk mengusulkan hipotesis yang sependapat dengan ilmu
pengetahuan yang sudah siap ditetapkan sebagai dasar.Serta poin ini harus
sesuai dengan yang dibutuhkan untuk memeriksa literatur dengan tepat oleh
karena itu suatu hipotesis harus dirumuskan bedasar dari laporan penelitian
sebelumnya.
- Hipotesis
Dinyatakan Secara Sederhana
Suatu
hipotesis akan dipresentasikan kedalam rumusan yang berbentuk kalimat
deklaratif, hipotesis dinyatakan secara singkat dan sempurna dalam
menyelesaikan apa yang dibutuhkan peneliti untuk membuktikan hipotesis
tersebut.
Suatu
hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni berdasarkan apa
yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus mencari situasi
empiris yang memberi data yang diperlukan. Setelah kita mengumpulkan data,
selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis , apakah harus menerima atau
menolak hipotesis. Ada bahayanya seorang peneliti cenderung untuk menerima atau
membenarkan hipotesisnya, karena ia dipengaruhi bias atau perasangka. Dengan
menggunakan data kuantitatif yang diolah menurut ketentuan statistik dapat
ditiadakan bias itu sedapat mungkin, jadi seorang peneliti harus jujur, jangan
memanipulasi data, dan harus menjunjung tinggi penelitian sebagai usaha untuk
mencari kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar